Kota di Tengah Gurun Ini Justru Membuat Warganya Tinggal di Bawah Tanah untuk Melawan Cuaca Ekstrem
Kalau biasanya orang kabur dari panas dengan masuk rumah, warga Coober Pedy, Australia Selatan, malah punya cara yang jauh lebih ekstrem: masuk ke bawah tanah. Kota kecil di tengah gurun ini terkenal sebagai pusat pertambangan opal, tetapi ada satu hal yang bikin Coober Pedy beda dari kota lain, yaitu banyak warganya tinggal di rumah yang digali langsung ke dalam bukit. Alasannya simpel, permukaan kotanya bisa terasa brutal banget saat musim panas, bahkan suhu ekstrem di kawasan ini dapat menembus 50°C. NASA mencatat sekitar separuh penduduk Coober Pedy hidup di bawah tanah, karena hunian seperti ini mampu menjaga suhu dalam ruangan tetap jauh lebih stabil.
Kenapa Warga Coober Pedy Memilih Tinggal di Bawah Tanah?
1. Suhunya jauh lebih stabil
Tanah dan batuan di sekitar rumah berfungsi seperti isolator alami. Saat permukaan gurun panas banget pada siang hari, panas tidak langsung menembus ruang bawah tanah. Karena itu, suhu di dalam dugout dapat bertahan sekitar 23°C dan relatif stabil sepanjang tahun.
2. Nggak cuma panas yang dilawan
Gurun punya perubahan suhu yang ekstrem. Siang bisa panas menyengat, sementara malam dan musim dingin dapat menjadi sangat dingin. Rumah bawah tanah membantu meredam perubahan suhu tersebut, sehingga penghuninya tidak terlalu bergantung pada pemanas atau pendingin ruangan.
3. Rumahnya sebenarnya bekas aktivitas tambang
Konsep dugout berkembang dari aktivitas pertambangan opal. Para penambang menemukan bahwa ruang yang digali ke dalam bukit terasa lebih nyaman dibandingkan tinggal di permukaan. Akhirnya, lorong dan ruang bekas galian berkembang menjadi kamar tidur, ruang keluarga, dapur, bahkan rumah lengkap.
4. Batuannya mendukung konsep ini
Coober Pedy berada di kawasan dengan lapisan batuan yang cukup stabil untuk digali secara horizontal ke sisi bukit. Karena kondisi geologinya mendukung, sejumlah ruangan bawah tanah bisa dibuat dengan bentang yang luas tanpa harus menggunakan struktur penyangga seperti rumah biasa.
5. Ventilasi tetap wajib
Tinggal di bawah tanah bukan berarti semua ruang dibuat tertutup rapat. Dugout membutuhkan ventilasi agar udara segar masuk dan kelembapan bisa keluar. Jadi, kalau dilihat dari atas, yang kadang terlihat justru hanya pintu masuk dan pipa atau cerobong ventilasi yang muncul dari permukaan gurun.
Yang menarik, kehidupan bawah tanah di Coober Pedy bukan sekadar soal bertahan dari panas. Seiring waktu, konsep ini berubah menjadi bagian dari identitas kota. Ada rumah, hotel, restoran, toko, galeri, bahkan gereja yang dibangun di bawah permukaan. Beberapa rumah juga sengaja mempertahankan dinding batu hasil galian sehingga bagian dalamnya terlihat seperti perpaduan antara rumah modern dan gua alami. Secara ilmiah, rahasianya ada pada thermal mass, yaitu kemampuan tanah dan batu menyerap serta memperlambat perpindahan panas. Akibatnya, perubahan suhu di dalam rumah jauh lebih lambat dibandingkan permukaan. Penelitian mengenai kondisi hunian bawah tanah di Coober Pedy juga menunjukkan bahwa desain seperti ini memang memanfaatkan sifat isolasi batuan sekaligus membutuhkan perhatian khusus pada ventilasi, kelembapan, dan stabilitas struktur.
Jadi, Coober Pedy membuktikan kalau menghadapi cuaca ekstrem nggak selalu harus melawan alam dengan teknologi mahal. Kadang solusinya justru sesederhana mundur beberapa meter ke dalam tanah. Di kota ini, hidup di bawah tanah bukan gaya hidup aneh, tetapi strategi cerdas yang lahir dari kondisi gurun yang benar-benar ekstrem.