Ada Gunung yang Dari Udara Terlihat Seperti Mata Raksasa—Bagaimana Alam Bisa Membentuknya?
Kalau lihat dari bawah, mungkin yang kelihatan cuma gurun, batu, dan bukit biasa. Tapi coba lihat dari udara, ada satu bentang alam di Mauritania yang bikin orang auto mikir, “Ini mata siapa, kok segede itu?” Namanya Richat Structure, atau lebih populer disebut Eye of the Sahara. Bentuknya berupa lingkaran-lingkaran raksasa yang sekilas mirip iris dan pupil mata. Uniknya lagi, ini bukan hasil manusia, bukan juga jejak pesawat alien, melainkan hasil proses geologi yang berlangsung selama waktu yang sangat panjang. Dari luar angkasa, bentuknya bahkan jauh lebih gampang dikenali dibandingkan ketika dilihat dari permukaan tanah.
Beberapa hal unik di balik “mata” raksasa ini:
- Bukan kawah meteor. Dulu bentuknya yang hampir bulat sempat membuat ilmuwan menduga Richat Structure adalah bekas tumbukan meteor. Namun penelitian geologi menunjukkan struktur ini lebih cocok dijelaskan sebagai kubah batuan yang terangkat, atau domed anticline, kemudian terkikis selama jutaan tahun.
- Lingkarannya terbentuk karena batuan “kalah kuat”. Tidak semua batuan mengalami erosi dengan kecepatan yang sama. Batuan yang lebih tahan erosi bertahan sebagai punggungan, sementara lapisan yang lebih mudah terkikis berubah menjadi lembah. Pola naik-turun inilah yang akhirnya membentuk lingkaran konsentris seperti iris mata.
- Ukurannya bukan kaleng-kaleng. Struktur Richat memiliki bentang sekitar 40 kilometer menurut NASA dan USGS, sementara beberapa sumber pengamatan satelit mencatat ukurannya dapat mencapai sekitar 50 kilometer tergantung bagian struktur yang dihitung. Jadi, ini bukan “mata” kecil yang kebetulan terlihat dari drone.
- Angin ikut menjadi seniman. Lokasinya berada di Sahara, sehingga angin dan air selama waktu yang sangat panjang ikut mengikis permukaan serta membantu membuka lapisan-lapisan batuan yang berbeda. Bahkan angin timur laut yang terus-menerus membantu menjaga sebagian kubah relatif bebas dari pasir.
- Lapisan di dalamnya seperti arsip sejarah Bumi. Cincin-cincin tersebut bukan sekadar pola cantik. Perbedaan warna dan bentuknya menunjukkan adanya berbagai jenis batuan sedimen dan batuan beku yang tersingkap akibat erosi. Bagian-bagian tertentu juga memperlihatkan lapisan batuan dengan usia yang berbeda.
Yang bikin fenomena ini makin menarik adalah cara alam membentuk sesuatu yang terlihat begitu “rapi” tanpa benar-benar merencanakannya. Bayangin ada kubah batuan yang terangkat jauh di masa lalu, lalu selama jutaan tahun permukaannya digerus angin, air, dan proses pelapukan. Karena tiap jenis batu punya tingkat ketahanan berbeda, bagian yang kuat tetap nongol sementara bagian yang lebih lunak terkikis. Hasil akhirnya adalah pola lingkaran bertingkat yang dari atas terlihat seperti mata raksasa. Fenomena semacam ini juga menunjukkan kenapa perspektif dari luar angkasa sangat penting dalam geologi. Dari permukaan, kita cuma melihat bukit dan lembah yang terpisah-pisah. Namun dari satelit atau orbit, pola besarnya langsung kelihatan. NASA bahkan mencatat bahwa struktur ini sangat sulit dikenali dari daratan, tetapi tampak jelas ketika dilihat dari angkasa.
Jadi, kalau ada yang bilang Bumi punya “mata”, secara harfiah memang bukan begitu. Tapi Eye of the Sahara membuktikan bahwa alam bisa menciptakan bentuk yang kelihatan seperti karya seni raksasa. Bedanya, senimannya bukan manusia—melainkan tekanan geologi, batuan, angin, air, dan waktu yang bekerja bareng selama jutaan tahun.